Budaya Titip Absen: Cermin Rendahnya Integritas Mahasiswa dalam Perspektif Ilmu Sosial Indonesia

Fenomena “titip absen” di kalangan mahasiswa seolah menjadi rahasia umum dalam dunia pendidikan tinggi di Indonesia. Tindakan yang tampak sepele ini meminta teman untuk menandatangani daftar hadir tanpa adanya hadir secara fisik di kelas, sesungguhnya mencerminkan masalah sosial yang lebih dalam seperti : rendahnya integritas, lemahnya kesadaran moral, dan kaburnya nilai tanggung jawab akademik.

Dalam perspektif ilmu sosial di Indonesia, budaya titip absen tidak dapat dilihat sekedar sebagai perilaku individu yang menyimpang, melainkan sebagai gejala sosial yang tumbuh dalam sistem nilai masyarakat. Mahasiswa yang mestinya menjadi agen perubahan (agent of change) justru kerap terjebak dalam budaya pragmatis, di mana kehadiran administratif dianggap lebih penting dari pada makna belajar yang sesungguhnya.

Kuntowijoyo, melalui gagasan ilmu sosial profetik, mengajukan kritik terhadap ilmu sosial yang  hanya bersifat deskriptif dan sekuler. Ia menyerukan agar ilmu diorientasikan pada nilai-nilai profetik: humanisasi, liberasi dan transendensi. Dalam konteks ini, budaya titip absen mencerminkan hilangnya ketiga nilai tersebut.

Humanisasi (memanusiakan manusia) gagal terwujud karena mahasiswa mereduksi makna kehadiran menjadi sekedar tanda tangan, bukan partisipasi aktif dalam proses pembelajaran. Liberasi (pembebasan) tidak terjadi karena  mahasiswa justru terbelenggu oleh budaya malas, ketidakjujuran, dan sistem pendidikan yang permisif. Transendensi (keterhubungan dengan nilai ilahi) terabaikan karena kejujuran nilai yang amat dijunjung tinggi dalam ajaran moral dan agama dikorbankan demi kenyamanan sesaat.

Ilmu sosial profetik menuntut agar perubahan sosial tidak hanya menyentuh struktur, tetapi juga moralitas dan kesadaran spiritual manusia. Dalam konteks mahasiswa, ini berarti menumbuhkan kembali makna belajar sebagai proses pencarian ilmu yang bernilai etis dan spiritual, bukan sekadar formalitas akademik.

Budaya titip absen, bila dibiarkan, dapat menjadi indikasi awal dari krisis integritas yang lebih luas di masyarakat, di birokrasi, bahkan dalam kepemimpinan masa depan bangsa. Mahasiswa bukan hanya pewaris ilmu, tetapi juga pewaris nilai. Oleh karena itu, membangun kesadaran profetik di kalangan mahasiswa berarti menanamkan bahwa kejujuran adalah bentuk ibadah,

tanggung jawab adalah bentuk pengabdian, dan belajar adalah jalan menuju kemanusiaan yang utuh.

 

Ditulis oleh : Siti Fauziyyatul Kamilah-Mahasiswi Administrasi Negara, Universitas Pamulang Serang

 

Dosen pembimbing:

Angga Rosidin, S.I.P., M.A.P.,

Zakaria Habib Al-Ra’zie, S.I.P., M.Sos

 

Program Studi Administrasi Negara, Universitas Pamulang (UNPAM) Kampus Serang