
IGERS.CO.ID, Cilegon – Perusahaan petrokimia nasional, Chandra Asri Group, mengumumkan status force majeure serta melakukan penyesuaian operasional pabrik sebagai langkah antisipasi terhadap potensi gangguan pasokan bahan baku. Kebijakan ini diambil setelah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah yang berdampak pada jalur logistik global.
Direktur Sumber Daya Manusia dan Urusan Korporat Chandra Asri Group, Suryandi, menjelaskan bahwa konflik yang melibatkan Iran dan Amerika Serikat mulai memengaruhi stabilitas distribusi bahan baku industri, terutama di kawasan Selat Hormuz yang merupakan jalur vital perdagangan energi dunia.
Menurutnya, perusahaan terus memantau perkembangan situasi internasional dan menyiapkan berbagai langkah mitigasi untuk menjaga keberlangsungan operasional perusahaan.
Sebagai bagian dari upaya tersebut, manajemen telah menyampaikan pemberitahuan force majeure kepada para mitra bisnis sesuai dengan ketentuan dalam kontrak kerja sama. Langkah ini disebut sebagai prosedur administratif yang diambil secara terukur setelah mempertimbangkan kemungkinan gangguan dalam pemenuhan kewajiban kepada pelanggan.
Selain itu, perusahaan juga memutuskan untuk menurunkan tingkat produksi (run rate) di beberapa fasilitas pabrik sebagai strategi kehati-hatian. Chandra Asri juga sedang berkoordinasi dengan para pelanggan guna mengurangi dampak terhadap rantai pasok dan kontrak bisnis yang tengah berjalan.
Suryandi menegaskan bahwa langkah pengurangan operasional ini bukan penghentian produksi, melainkan strategi adaptasi menghadapi dinamika global yang sedang berkembang.
Sementara itu, situasi memanas setelah Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) mengumumkan penutupan Selat Hormuz sejak Senin, 2 Maret 2026. Otoritas Iran bahkan mengancam akan menyerang kapal yang mencoba melintasi jalur tersebut.
Selat Hormuz sendiri merupakan salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia, karena menjadi rute utama distribusi minyak dari negara-negara produsen besar di kawasan Teluk seperti Arab Saudi, Iran, Irak, dan Uni Emirat Arab. Diperkirakan sekitar 20 persen pasokan minyak global melewati jalur sempit tersebut setiap harinya.
Jika penutupan ini berlangsung lama, para analis memperkirakan dampaknya bisa memicu gangguan besar pada pasokan energi global serta berpotensi menyebabkan lonjakan harga minyak dunia.
Di tengah situasi tersebut, Chandra Asri menyatakan tetap berkomitmen menjaga stabilitas operasional serta terus mengevaluasi perkembangan geopolitik yang berpotensi memengaruhi industri petrokimia di masa mendatang.

More Stories
Anggota DPRD Jansen Hilarius Kritik Pemkot Cilegon: Jangan Terburu-buru Ambil Kesimpulan Soal Banjir Pondok Golf
Kolaborasi Pemkot dan Industri 50 Bus Mudik Gratis Berangkatkan 2000 Warga Cilegon
Kejari Cilegon Dalami Dugaan Korupsi Anggaran Reses DPRD Cilegon Senilai 2,8 Miliar